casper. Powered by Blogger.

Blog ini bertujuan untuk share ilmu dan pengetahuan. Semua source/aplikasi di blog ini bebas disebar dan mencamtumkan sumber "fandy-alfa.blogspot.com".

RSS

mutiara kata


“Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:14-15)
“tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan.” (1Kor 1:23)

sumber : "I'm Glad You Asked", Questions from the parishioners of St. Charles Borromeo Catholic Church Picayune, Mississippi; by Fr. John Noone; Copyright © 1999; www.scborromeo.org
Demikian juga,  dengan memandang patung, gambar atau pun lukisan para kudus, kita akan teringat pada teladan mereka. Banyak orang Protestan sendiri memiliki gambar Yesus atau gambar-gambar Kitab Suci lainnya di Sekolah Minggu untuk membantu mereka mengajar anak-anak. Dalam Kitab Suci, Tuhan memerintahkan pembuatan patung bagi rumahNya, misalnya dalam Keluaran 25, di mana Tuhan bersabda: "Dan haruslah kaubuat dua kerub dari emas, [kerub: makhluk surgawi yang bersayap]...". Sekali lagi, patung-patung itu bukan untuk disembah, tetapi untuk mengingatkan kita akan makhluk-makhluk surgawi.

sumber : The Young Saints Club; www.geocities.com/Athens/1619 
Gereja Katolik menempatkan corpus di atas salib bukan karena kita menyembah Kristus yang wafat atau pun merayakan wafat Kristus lebih sering daripada merayakan kebangkitan-Nya, melainkan sebagai peringatan akan apa yang telah Ia lakukan bagi kita. Melalui wafat Kristus di salib itulah kita beroleh keselamatan. Dalam spiritualitas Katolik, salib dan kebangkitan Kristus tak dapat dipisahkan, demikian juga bagi mereka yang hendak menjadi pengikut-Nya. Memperoleh terang kebangkitan tanpa melalui salib adalah tidak mungkin bagi Kristus dan kita semua dipanggil untuk mengikuti teladan-Nya. Kita semua diminta untuk memikul salib kita serta mengikuti-Nya (Mat 10:38, 16:24; Mrk 8:34; Luk 9:23). Kurban, kita diingatkan akan kurban Kristus melalui kehadiran corpus, adalah apa yang Ia lakukan bagi kita dan untuk itulah kita dipanggil jika hendak menjadi pengikut-Nya yang sejati.

sumber : "I'm Glad You Asked", Questions from the parishioners of St. Charles Borromeo Catholic Church Picayune, Mississippi; by Fr. John Noone; Copyright © 1999; www.scborromeo.org



Dalam Perjanjian Lama, umat mempersembahkan hewan sebagai kurban. Mereka membawa hewan-hewan kurban kepada seorang imam. Kemudian imam menyembelih hewan-hewan itu dan membakarnya di atas altar. Kadang-kadang ratusan, bahkan ribuan hewan dibakar sebagai kurban persembahan. Bau yang timbul akibat kurban bakaran tersebut sungguh sangat tidak enak. Imam menggunakan dupa untuk mengatasi bau tersebut.

Yesus menggantikan segala bentuk kurban yang lama dengan Tubuh-Nya sendiri di kayu salib. Kita masih tetap menggunakan dupa ratus pada peristiwa-peristiwa khusus. Tujuannya untuk mengingatkan kita bahwa Kurban Kristus mendatangkan keselamatan. Imam menggunakan perangkat khusus - seperti tampak pada gambar - untuk menyebarkan dupa.

sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com

"Orang yang menyendiri,mencari keinginannya,amarahnya meledak terhadap setiap pertimbangan." (Amsal 18:1)..."Dengan kasih dan kesetiaan,kesalahan diampuni,karena takut akan TUHAN orang menjauhi kejahatan." (Amsal 16:6)
 
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS